Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Maret 2014

Tiga Hal yang Harus Diajarkan Orang Tua pada Anak



Anak adalah aset paling berharga yang dimiliki oleh para orang tua. Maka sebagai orang tua sudah seharusnya lah kita mendidik, menjaga dan mengasuh mereka dengan pola asuh yang baik. Sehingga ketika mereka besar, mereka akan menjadi pribadi-pribadi baik, unggul dan luar biasa.
Pada dasarnya setiap anak itu istimewa. Sebab anak dilahirkan dari proses perjuangan panjang. Anak  lahir dan berasal dari satu sel sperma istimewa yang lolos dari ribuan bahkan jutaan sperma lain yang saat itu sama-sama berjuang untuk masuk ke dalam sel telur. Karena itulah setiap anak adalah  istimewa sebab dari ribuan sel itu ia terpilih menjadi seorang manusia yang diamanahi Tuhan untuk hidup di dunia ini.
Berbahagialah para Ayah dan Ibu, sebab tidak semua pasangan suami isteri memiliki anak. Banyak pasangan yang sudah bertahun-tahun bahkan puluhan tahun menikah namun belum dianugerahi buah hati. Maka sudah sepantasnya kita bersyukur dengan mendidik dan mengajar anak yang kita miliki dengan sepenuh cinta.
Para orang tua seringkali berlebihan bahkan sampai emosi setiap kali anak melakukan kekeliruan. Orang tua lebih mudah memberi sanksi saat anak melakukan kesalahan namun lupa mengapresiasi anak saat ia melakukan kebaikan atau sesuatu yang positif.
Posisikanlah anak-anak sebagai anak-anak. Jangan sesekali memandang anak sebagai manusia  dewasa. Sebab anak bukan orang dewasa yang berukuran mini. Bila anak melakukan kesalahan, pakailah kaca mata anak-anak untuk mengukur kesalahan tersebut. Bukan memakai kacamata orang dewasa. Sebab dalam dunia anak-anak, bermain adalah belajar. Anak-anak mendapat pelajaran dari permainan yang mereka mainkan. Begitulan proses belajar anak. Mereka belajar dari pengalaman bermainnya.
Ketika anak bermain ayunan lalu terjatuh, tidak heran bila mereka akan tetap bermain. Walau pun ketika jatuh mereka akan menangis. Namun mereka akan mengulanginya kembali dengan tehnik dan cara yang berbeda dengan sebelumnya. Karena sesungguhnya dari bermain dan dari jatuh itu anak sedang belajar sesuatu. Maka orang tua yang bijak adalah bukan orang tua yang terlalu banyak melarang anak untuk bermain ini dan itu. Orang tua yang bijak adalah orang tua yang mampu mengawasi anak dan meminimalisir bahaya saat anak sedang bermain.

Dalam acara Talk Show bertema “ Bijak dalam Mendidik Anak” yang berlangsung hari ini pada pukul 10.00 wib di RA. Adzkia Jl. Datuk no. 2 Pelawi Utara Pangkalan Berandan Kab. Langkat dengan ditemani moderatornya Bapak Supriadi, S.Ag. Psikolog bernama Bapak Samsul Bahri, S.Psi. ini menyampaikan bahwa  ada TIGA hal yang harus kita lakukan sebagai orang tua. Tiga hal tersebut adalah:
1.       Ajari anak untuk selalu meminta maaf ketika ia melakukan kesalahan atau kekeliruan
Jika kita para orang tua menginginkan anak menjadi pribadi yang baik dan positif maka kita harus menjadikan diri kita sebagai pribadi yang baik dan positif terlebih dahulu. Ucapkan kata “maaf” pada anak anda jika anda melakukan sebuah kesalahan atau kekeliruan. Ini akan mengajarkan anak untuk meminta maaf bila suatu saat ia melakukan kesalahan dan kekeliruan.
2.       Ajari anak untuk selalu  mengucapkan kata ‘tolong’ saat meminta bantuan
Ucapkanlah kata “tolong” sebelum kita meminta anak untuk mengerjakan suatu perintah atau bantuan. Misalnya, “ Nak, tolong ambilkan pulpen Bunda di atas meja ya...” Ini akan mengajarkan anak untuk selalu mengucapkan kata tolong saat ia meminta bantuan pada kita orang tuanya maupun pada orang lain. Dan sekaligus mengajarkan anak untuk tidak sombong atau semena-mena memerintah orang lain.
3.       Ajari anak untuk selalu mengucapkan terima kasih
Orang tua yang selalu mengucapkan terima kasih saat anak membantunya mengambilkan sesuatu yang diperintahkan, secara tidak langsung orang tua telah mengajari anak arti terima kasih. Sehingga suatu saat anak akan kembali mengucapkan “terima kasih” pada orang lain yang telah membantu atau berbuat baik padanya.

Jumat, 21 Juni 2013

Suprise Tak Harus Menunggu Momen


Terkadang tidak butuh hari istimewa atau momen spesial untuk memberikan hadiah atau kado pada seseorang yang spesial. Seperti sahabat, kekasih ( pasangan hidup ), orang tua, anak, guru atau siapa saja. Karena hadiah yang sesungguhnya tidak mengenal batas waktu dan tidak terikat sesuatu kecuali satu: “ ketulusan “.  Hadiah yang sederhana bisa menjadi suprise justru ketika diberikan pada momen biasa. Karena yang diberi pasti merasa suprise sekali, tiba-tiba dapat hadiah. Lalu bertanya-tanya, “ dalam rangka apa?”

Itulah yang saya alami kemarin. Bahkan efeknya masih berasa sampai hari ini, saat saya menuliskan kisah ini. Sambil membayangkan sosok malaikat yang memberikan hadiah itu. Hadiah yang mungkin buat kalian tidak seberapa atau biasa saja. Hadiah yang sudah sangat umum ditemui dan sangat terjangkau dibeli. Tapi bukan itu yang menjadi nilai dari sebuah hadiah. Kalian pasti sudah sangat sering mendengarkan kalimat ini, “ Jangan nilai hadiah ini dari bentuknya, tapi lihatlah ia dari seberapa tulus hati yang memberinya. “ Nice. Kalimat yang sejak dulu membuat saya mengerti satu hal, bahwa menerima harus tutup mata. Bukan berarti ketika menerima hadiah harus merem atau memejamkan matanya. Hehe...Maksud saya, menutup mata di sini adalah tidak melihat apa hadiah yang diberikan dan siapa yang memberikan, namun lebih kepada penerimaan. Bahasa kerennya mungkin “ Qona’ah “ dalam menerima hadiah. Tidak pandang bulu atau pilih tebu. Kecuali hadiah kondom atau barang sejenisnya yang mengundang “was-was atau prasangka” bila kita menerimanya. Sehingga tidak menimbulkan efek samping negatif berupa asumsi miring dari orang banyak. Atau dengan kata lain menghindarkan diri dari mudhorat yang mungkin timbul setelah kita menerimanya. Maka ada baiknya ditolak secara halus dan dengan cara yang santun. Pokoknya sedapat mungkin tidak menyinggung perasaan si pemberi. Nah....hadiah seperti ini biasanya sering mampir ke para petinggi atau orang-orang penting. Untungnya saya tidak berada di posisi ini  sehingga aman dari kemungkinan yang mengerikan itu. Loh, kok tiba-tiba tangan saya bisa membahas soal ini ya. Hehee...maaf tidak sengaja memberi contohnya. Sebab mendadak contoh itu yang muncul di kepala saat jemari sedang asyik menari. Reflek ingat itu. Mungkin karena baru-baru ini membaca berita yang berhubungan dengan itu. Sekali lagi maaf jika ada yang tersinggung. Piss.

Nah lanjut ke cerita awal. Kemarin, sekitar 3 hari yang lalu. Saya benar-benar merasa suprise sekali saat murid saya bernama Ummu memberikan kado pagi-pagi, saat jam pelajaran belum dimulai. “ Ini buat ibuk, “ katanya. Aku bingung, heran, dan bertanya-tanya, “ Dalam rangka apa? “. Benar-benar suprise. Sesuatu sekali rasanya dapat hadiah di saat tidak ada momen apa-apa.
“ Makasih ya, Sayang...” kataku. Ummu hanya tersenyum. Manis sekali.
Kulihat bungkusnya, tertulis  “ Buat: Buk Vivi” ( Gambar 1 ). Aku tersenyum. Sedikit penasaran isinya. Tapi jam pelajaran sudah dimulai, kuurung niatku. Kado itu kuletakkan di atas meja.
“ Buka, Buk. Bukaa...!! “ teriak semua teman Ummu di kelas. Suasana jadi berisik. Aku sempat menolak, tapi mereka tetap memaksa. Baiklah. Sebentar saja, pikirku. Semoga ini tidak termasuk bagian dari korupsi waktu. Toh ini permintaan murid-muridku. Hehee....
Bismillah... Kubuka bungkus kadonya. Tampak kotak kue warna putih bergaris pinggir merah persegi. “ Yeee......Ibuk dapat kue! “ celetuk seorang siswa. “ Horeee...kita makan kue.” Siswa yang lain semangat, kompak mengaminkan temannya yang tadi.
“ Hehee...iya. Nanti kita makan sama-sama ya kuenya. Tapi kita belajar dulu” kataku.
“ Horeeee... Horee... Horeee....” Teriak mereka bersamaan.
Kubuka pelan-pelan kotak kue itu. Aku yang pagi itu belum sarapan, mendadak merasa lapar melihat kotak kue. Padahal belum tentu isinya kue. Tapi apa boleh buat, otak sudah tersihir sugesti. Apalagi aku tahu bahwa orang tua Ummu memang pengusaha kue yang cukup sukses. Kulepaskan lem yang merekatkan tutup kotak tersebut. “ Bismillah....” ucapku lagi. Dan terlihatlah isinya. Taraaaa......
“ Yaaaaaaaaaaaaaahhhh...bukan kueeeeeeeeee.....” sontak anak-anak itu berteriak. Kecewa mungkin. Terlihat dari wajah mereka pagi itu. Tapi apa boleh buat, itulah kejutan. Tidak selamanya kotak kue berisi kue. Tidak selamanya memberi hadiah itu harus ada momen khusus.
Aku berusaha mengarahkan anak-anak agar memahami kondisi saat itu. Dengan bahasa yang mereka pahami.  Alhamdulillah, mereka segera mengerti dan ikut berbahagia menerima hadiah itu.
Ada suratnya ternyata. Ini suprise ke dua ayng aku terima. Luar biasa senangnya. Namun ada rasa haru yang mencumbu kalbu kala butir-butir aksara yang tertulis di selembar kertas itu kubaca.
“ Assalamu’alaykum Wr Wr..
Terimakasih Ummu ucapkan pada Buk Vivi yang udah ngajarin & jaga Ummu di TK A. Ummu pernah digendong sama Ibuk waktu nangis saat Ummu baru masuk TK. Ummu minta izin ya Buk, terimakasih atas kasih sayang & perhatian Ibu. Semoga mendapatkan pahala & ganjaran dari Allah SWT. Aamiin.

Luar biasa perasaanku hari itu. Benar-benar indah cara Allah memberi kejutan lewat perantara berwujud manusia mungil dan menggemaskan seperti Ummu. Haru campur bahagia. “ Terimakasih ya, Robb....” lirihku dalam hati.

Nah.....ini dia malaikat kecil itu. Ummu Salamah namanya, di sebelah kanan. Sedang yang di sebelah kiri itu temannya, Zulaika. Cantik kan? Tidak hanya cantik, mereka siswa yang cerdas dan sholeha. Semoga menjadi anak-anak yang bermanfaat dan selalu menjadi kebanggaan orang tua. Agama dan bangsa sampai mereka dewasa. Aamiin.

Sabtu, 27 April 2013

Dakwah is Love

Bismillahirrahmaanirrahiim….


What the meaning of Dakwah? Sebuah pertanyaan yang dulu muncul dari seorang anak ingusan seperti saya beberapa tahun yang lalu saat masih duduk di SMA, masa awal mengenal kata ini. Dulu saya pikir dakwah adalah sebatas ceramah, menyampaikan ayat-ayat Allah di masjid-masjid, di majelis ilmu dan di pesantren-pesantren yang isinya melulu hanya ceramah yang monoton dan yang hanya boleh dilakukan oleh para Ustadz dan bisa berbahasa Arab walaupun sedikit. Tapi seiring berjalannya waktu, seiring bergulirnya hari, pemahaman-pemahaman yang lebih luas dan terbuka tentang dakwah akhirnya saya temukan. Hingga pada suatu hari saya mendapatkan sebuah kalimat yang sangat indah. Kalimat yang membuat saya jatuh cinta dengan jama’ah ini. “ Dakwah itu cinta. Dan cinta akan meminta segalanya darimu. Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan, duduk dan tidurmu. Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang ummat yang kau cintai.” Almarhum KH. Rahmat ‘Abdullah. Dan akhirnya saya memutuskan untuk memilih jama’ah ini sebagai wadah untuk melakukan kerja dakwah.
Kalau ditanya apa yang paling berkesan buat saya ketika melakukan kerja-kerja dakwah? Sebenarnya saya malu dengan pertanyaan ini, karena saya menyadari bahwa belum banyak kontribusi yang saya berikan untuk jalan dakwah ini. Apa yang sudah saya berikan? Rasanya belum ada. Apalagi bila dibandingkan dengan para pendahulu saya di jama’ah ini. Saya tidak ada apa-apanya. Tapi kalau diharuskan mengungkapkan kesan, baiklah… akan saya ungkapkan. Rasa-rasanya semua berkesan, tidak ada yang tidak berkesan. Mulai dari kesan paling sedih maupun kesan yang paling menyenangkan. Saya yakin semua orang yang berkecimpung di dunia dakwah pasti mengalaminya. Namun kesan sedih tidak perlu kita kenang-kenang, mengingat nasehat seorang Murobbi besar kita, almahrum KH. Rahmat Abdullah yang mengatakan, “ Ada dua hal yang harus selalu kita ingat. Kebaikan orang lain terhadap kita dan keburukan kita terhadap orang lain. “ Kebaikan orang lain adalah hal yang menyenangkan, karena itu ia harus dikenang. Sedangkan keburukan oranglain pada kita adalah hal yang tidak menyenangkan jadi tidak perlu dikenang. Nah, karena kesan sedih itu tidak menyenangkan maka ada baiknya kita lupakan. Tidak perlu disebut-sebut. Lebih baik kenang saja ketidakbaikan kita pada orang lain yang kalau dikaitkan dengan dakwah, ketidakbaikan kita itu mungkin kurang ikhlasnya hati, kurang lurusnya niat, kurang sabarnya dalam berbuat, kurang banyaknya kontribusi, kurang yakinnya pada janji-janji Allah, kurang benarnya kita dalam memperlakukan saudara, kurang seringnya kita berdoa untuk kemaslahatan ummat, kurang banyaknya kita dalam meningkatkan amal ibadah, serta kurang-kurang lainnya yang hanya diri kita dan Allah saja yang tahu.
Kesan yang paling berkesan buat saya adalah ketika orang yang saya dakwahi menjadi lebih baik dari saya. Lalu ia mendoakan saya dalam diam sehingga saya diistiqomahkan Allah untuk tetap berada di jalan dakwah ini. Meski pasang surut semangat jauh lebih fluktuatif dari ombak di lautan. Atau ketika fitnah besar-besaran bertubi menerpa wajah dakwah ini, namun kita masih menjadi orang yang tetap tegar berdiri mendengar semua celotehan itu dengan tetap berprasangka baik  dan memutuskan untuk tetap berada dalam jama’ah ini. Merapatkan barisan kembali lalu  berkata, “ Beginilah jalan dakwah mengajarkan kami.”

Taujih Rabbani :
 
“ (yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya manusia [250] telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka", Maka Perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: "Cukuplah Allah menjadi penolong Kami dan Allah adalah Sebaik-baik Pelindung. Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah. dan Allah mempunyai karunia yang besar [251]. Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman. ( QS. Ali Imran: 173-175 )

[250] Maksudnya: orang Quraisy.
[251] Ayat 172, 173, dan 174, di atas membicarakan tentang Peristiwa perang Badar Shughra (Badar kecil) yang terjadi setahun sesudah perang Uhud. sewaktu meninggalkan perang Uhud itu, Abu Sufyan pemimpin orang Quraisy menantang Nabi dan sahabat-sahabat beliau bahwa Dia bersedia bertemu kembali dengan kaum muslimin pada tahun berikutnya di Badar. tetapi karena tahun itu (4 H) musim paceklik dan Abu Sufyan sendiri waktu itu merasa takut, Maka Dia beserta tentaranya tidak Jadi meneruskan perjalanan ke Badar, lalu Dia menyuruh Nu'aim Ibnu Mas'ud dan kawan-kawan pergi ke Madinah untuk menakut-nakuti kaum muslimin dengan menyebarkan kabar bohong, seperti yang disebut dalam ayat 173. Namun demikian Nabi beserta sahabat-sahabat tetap maju ke Badar. oleh karena tidak terjadi perang, dan pada waktu itu di Badar kebetulan musim pasar, Maka kaum muslimin melakukan perdagangan dan memperoleh laba yang besar. Keuntungan ini mereka bawa pulang ke Madinah seperti yang tersebut pada ayat 174.
Kalau kata almarhum Ust. Rahmat bahwa cinta akan menuntut segalanya darimu, ya benar. Tapi saya juga ingin mengunkapkan sesuatu tentang cinta. Bagi saya, Cinta adalah konspirasi antara rindu dan cemburu. Mengapa demikian? Karena akan selalu ada rindu yang mengalir saat kita tidak lagi berbuat untuk dakwah ini, saat kita tidak lagi berkumpul bersama dalam jama’ah ilmu, saat kita tidak lagi saling menasehati dalam kebaikan dan memotivasi dalam kebenaran, saat kita tidak lagi terlibat dalam segala hal yang berbau dakwah ( baca: kebaikan ). Lalu rindu itu diprovokasi oleh rasa cemburu. Cemburu melihat orang lain lebih baik daripada kita, cemburu melihat orang lain lebih semangat dalam bekerja, cemburu ini dan cemburu itu yang akhirnya menimbulkan sebuah rasa bernama CINTA yang pada akhirnya menyadarkan kita bahwa “ Aku harus berbuat sesuatu untuk dakwah ini. “

-          Wallahu a’lam bis Showab -

P. Berandan, 22 April 2013

Rabu, 13 Februari 2013

:::HANA TAJIMA MUALLAF:::



Hana Tajima Simpson adalah blogger muslimah yang akhir-akhir ini sedang diperbincangkan di dunia maya. Di kalangan para blogger, nama perempuan blasteran Jepang-Inggris itu dikenal karena gaya berjilbabnya yang kasual dan elegan namun tetap syar'i. Hana mencintai dunia mode sejak kecil. Kini ia berprofesi sebagai perancang dengan label Maysaa. Bahkan karyanya pernah dipajang majalah sekelas Vogue.

Hana adalah seorang mualaf. Dia baru memeluk Islam sekitar 5 tahun lalu. Ia langsung mengenakan hijab saat hari pertama masuk Islam. Menurut Hana hijab adalah identitas bagi setiap muslim. Hana mengenakannya dengan bangga. Tak mudah loh bagi seorang muslimah yang tinggal di negara barat. Diskriminasi dan pandangan sinis sudah menjadi hal yang biasa. Namun ia bertekad untuk mematahkan anggapan orang tentang Islam dengan merancang busana muslim keren.

Lewat blog StyleCovered ia menginspirasi muslimah dari berbagai negara, termasuk Indonesia. Ia memosting tutorial berhijab. Menarik dan kreatif, berbeda dari gaya berhijab wanita muslimah pada umumnya. Oh ya! Buat Teenholics yang berjilbab, boleh lho contek gaya Hana sebagai inspirasi.


Hana yang lebih dikenali sebagai seorang pereka fesyen membuat kejutan melalui produk dengan jenama Maysaa. Produk yang telah dilempar ke pasaran dunia itu berupa hijab bergaya 'layers'. Melalui jenama tersebut, Hana mencoba untuk memperkenalkan gaya berbusana yang trendi, namun tetap sesuai dengan syariat Islam di kalangan Muslimah.

Hana datang daripada latar belakang keluarga Kristian yang tidak terlalu mementingkan agama dalam kehidupan mereka. Ayahnya berasal dari Japan dan ibunya merupakan seorang wanita Inggeris. Minatnya kepada Islam bermula semasa memasuki universitas.Disanalah Hana bertemu dan bersahabat dengan beberapa pelajar Muslim.

Banyak sahabat-sahabatnya yang beragama Islam juga sesama muallaf dan sering berdialog berbagi cerita ke sesama muallaf berbagai dunia termasuk community muallaf of indonesia,

Menurut teman teman hana,dia kelihatan berbeda dengan yang lain. "Hana kelihatan menjaga jarak dengan beberapa pelajar tertentu karna menjaga akidah dan aturan islam. Hana juga menolak ketika diajak untuk pergi berhibur di sebuah kelab malam." Tutur teman temannya dalam bloging

Islam Bagi Hana, itu sangat menarik. Selain itu, sahabat-sahabatnya yang Muslim dianggap sangat menyenangkan apabila diajak berbincang berkaitan hal kuliah. Menurutnya, pelajar Muslim lebih banyak menghabiskan masa mereka membaca di perpustakaan ataupun berbincang tentang al quran dan sain.

Dari sahabat-sahabat Muslim itulah, secara perlahan-lahan Hana mulai tertarik dengan ilmu falsafah terutamanya falsafah Islam. Sejak saat itu, Hana mula mempelajari falsafah Islam langsung dari sumbernya iaitu Al-Quran. Kenyataan bahawa Al-Quran tetap sama seperti sebelumnya memberi maksud bahawa sentiasa ada titik rujukan untuk semua perkara. "Di dalam Al-Quran, saya menemukan banyak rujukan berkisar tentang isu-isu mengenai hak wanita.

Semakin banyak saya membaca, semakin diri saya bersetuju dengan ide-ide dan konsep disbalik Al-Quran dan saya melihat bagaimana Islam mewarnai kehidupan sahabat-sahabat Muslim saya. Namun saat itu, keinginan untuk memeluk agama ini masih belum tiba. Sehinggalah tiba pada satu titik yang mana saya tidak dapat mengatakan tidak pada diri saya mengenai kebenaran agama ini, maka saya memutuskan untuk menjadi seorang Islam" katanya.

Rasa kagumnya terhadap ajaran-ajaran yang terkandung di dalam Al-Quran akhirnya membuatkan Hana memutuskan untuk memeluk Islam. Tanpa menemui sebarang paksaan dan halangan, dengan hanya disaksikan oleh teman-teman Muslimahnya, Hana pun mengucapkan dua kalimah syahadah. "Menyatakan perkara tersebut kepada keluarga adalah sesuatu yang mudah. Saya tahu mereka akan gembira selagi mana saya juga gembira, dan mereka boleh melihat ianya adalah sesuatu yang baik," tuturnya.

Seperti halnya semasa Hana memutuskan untuk memeluk Islam, begitu juga keputusan untuk mengenakan hijab datang tanpa paksaan. Hana mula mengenakan hijab di hari sama dia mengucap dua kalimah syahadah. "Ini merupakan cara terbaik bagi membedakan kehidupan saya di masa lalu dengan kehidupan saya pada masa depannya," ujarnya.

Keputusan untuk mengenakan hijab pada masa yang sama menerima pelbagai reaksi dari orang-orang di sekelilingnya, terutamanya kawan dekatnya. Sebelum mengenakan hijab, Hana sudah memahami pemahaman negatif terhadap orang-orang yang berhijab. "Saya tahu apa yang mereka fikirkan mengenai hijab, tetapi saya akan bersikap berpura-pura tidak mengetahuinya. Namun seiring dengan masa, orang-orang di sekitar saya kini sudah boleh menerima penampilan saya dengan balutan hijab." katanya lagi.

Dalam blog peribadinya, Hana mengakui bahawa menjadi seorang Muslimah di sebuah negara barat adalah sedikit menakutkan, terutamanya ketika semua mata di sekitarnya memandangnya dengan pandangan yang aneh. Maklum sajalah, sebahagian penduduk di negara-negara barat telah terjangkit dengan wabak Islamofobia. "Oleh sebab itu, saya ingin menciptakan sesuatu yang akan membantu para muslimah di mana jua untuk terus berusaha mengatasi perasaan takut itu." ujarnya.

Kini, dengan busana Muslimah yang dirancangkannya, kaum Muslimah di negara-negara barat mampu tampil dengan busana yang boleh diterima oleh masyarakat di sana tanpa meninggalkan peraturan yang ditetapkan Islam." Kini fesyen busana Muslimah yang diperkenalkannya bukan saja mendapat sambutan yang hangat daripada muslimah di seluruh dunia, malah penerimaan daripada yang bukan Islam juga sangat mengapresiasi karya fashion saya." tuturnya.


Sumber :  http://www.facebook.com/bmuallaf