Sabtu, 20 Juni 2015

Kubujuk Hatiku

  

Malam ini hampir pagi, tepat 3 Ramadhan 1436 H (19 Juni 2015 M) pukul 23.55 wib. Mataku tidak bisa kupejamkam padahal beberapa malam sebelumnya aku pasti sudah tidur sebelum pukul sepuluh. Ada yang terasa mengusik hati, membuat berisik malam yang sebenarnya sepi. Hanya sayup-sayup suara mengaji dari  toa musholla yang terdengar dibawa angin berlari ke sana kemari. Seperti perasaanku malam ini, seolah ikut pergi bersama angin. Tidak tahu kemana ia akan berhenti. Perasaan tidak enak yang tiba-tiba muncul tanpa sebab dan tidak kumengerti mengapa. Rasa inilah yang membuatku memutuskan membuka jejaring sosial dan akhirnya aku mengerti...

Kini terjawab tanya di hati. Tentang rasa berisik yang mengusik ketentraman hati. Aku menemukan jawabannya sesaat setelah menemukan informasi yang sebenarnya tidak sengaja kulihat muncul di beranda akun FB. Tanpa sadar aku berucap, “ Astaghfirullaahal ‘azhiim....” sambil memejamkan mata secepat kilat pikiranku menyadarkanku hingga membuatku meralat apa yang baru saja kuucap, “ Alhamdulillah ya Allah... Aku turut bahagia. Ya, aku bahagia. Ini gilirannya, nanti pasti giliranku.” Lirih hati tak henti menyebut  asma Allah untuk menentramkan kembali tatanan hati.

Lalu angin pun sejenak berhenti dan duduk bersamaku di sini. Memerhatikan apa yang sudah lama tidak kukenang. Membuang apa yang tidak ingin kusimpan. Menerima apa yang tidak pernah kudapatkan. Dan  melepaskan apa yang tidak pernah kugenggam...

Sketsa masa lalu yang tidak pernah jadi lukisan utuh, maka ia hanya akan berupa sketsa hingga masa menua dan dunia tiada. Sketsa Langit Biru... Selamat, karena lebih dulu menemukan pelukis yang membuat sketsamu menjadi nyata indahnya.

Terima kasih ya Allah...

Aku merasa malam ini aku semakin dewasa karena berhasil membujuk hatiku berdamai dengan apa yang pernah terjadi pada masa lalu. Membujuk hatiku untuk menerima segala kenyataan yang memang sudah sejak lama Engkau gariskan. Membujuk hatiku untuk selalu berbesar hati menyunggingkan bibir, tersenyum dengan tulus berkata, “ Duhai Allah... Sungguh, aku ikhlas...” lalu selembut alir yang mengalir kulepaskan perasaan yang tadi sempat tertahan. Ikhlas yang tidak bisa kudefenisikan pengertiannya namun sungguh menentramkan hati karenanya...



Kamis, 10 Juli 2014

Kakak, Temani Aku Mengumpulkan Peluru


Melihat foto-foto anak-anak Palestina yang hangus terbakar dan hancur diledakkan oleh bom Yahudi Israel (La’natullah ‘alaihim), hati ini terasa sakit dan dada tiba-tiba terasa sesak. Seolah foto itu berbicara kepadaku, seolah foto-foto itu bercerita banyak hal tentang apa yang mereka (adik-adik kecil) rasakan dan alami di negerinya. Sehingga telinga ini seolah ikut mendengar dentuman rudal dan ledakan bom yang bersahut-sahutan.
Mereka bercerita padaku...

Kakak... kakak sedang apa? Aku dan teman-temanku sedang bermain petak umpet sama seperti anak kecil lainnya di negeri kakak. Sama seperti adik kecil kakak. Hanya saja kami tidak bermain bersama teman seusia melainkan harus bermain bersama orang dewasa bersenjata api. Mereka Zionis yang ingin merebut negeri kami. Bahkan tak jarang mereka merebut nyawa saudara-saudara kami. Ya, saudara kakak juga.
Kalau anak-anak kecil di negeri kakak bersembunyi di balik pohon atau dinding rumah mereka saat main petak umpet, kami di sini hanya bersembunyi di balik sisa reruntuhan tembok rumah-rumah kami. Sebab rumah kami juga tak luput dari rudal om-om bersenjata itu. Tak jarang mereka juga menghujamkan senjatanya ke teman seusiaku jika kami sedang berpapasan. Padahal kami tidak membuat kesalahan dan kami juga tidak menginjak kaki mereka. Sungguh. Tapi ternyata, bertemu mereka adalah sebuah kesalahan sehingga tidak sedikit di antara kami harus merasakan darah bercucuran dari pelipis dan kepala karena sepatu yang mereka pakai melayang begitu saja. Dan tidak sedikit tubuh teman seusiaku harus mengucurkan darah karena ditembus peluru-peluru senjata mereka. Aku yakin, di negeri kakak permainan petak umpetnya tidak seperti di negeriku kan, Kak?
Setiap akan tidur, ummi selalu menutup telingaku dengan sesuatu bahkan kadang sengaja mencari kapas untuk menyumbatnya serapat mungkin. Kata ummi agar aku bisa tidur dengan nyenyak. Padahal sebenarnya aku sudah mulai terbiasa dengan suara ledakan dan dentuman itu. Tapi ummi tetap saja ummi, ummi berbaik hati melakukannya padahal ummi sendiri hampir tidak pernah tidur setiap malam sebab harus menjagaku.
Kak... Jika anak-anak kecil seusiaku di negeri kakak atau negeri lainnya selalu melihat sinar indah mentari pagi setiap hari saat bangun dari tidurnya, kami di sini hanya melihat kepulan asap hitam bekas hantaman rudal mengepul ke angkasa membuat mentari tak berani menampakkan diri. Jika anak-anak kecil seusiaku di negeri kakak atau negeri lainnya selalu mendengar kicau merdu burung-burung setiap pagi, kami di sini selalu mendengar teriakan dan tangisan saudara kami yang kehilangan anak, ibu, ayah, kakek, nenek, om atau tantenya. Di sini kami tidur siaga dan bangun disambut duka. Tapi tidak mengapa, Kak. Sungguh kami sudah terbiasa...
Jika anak-anak kecil di negeri kakak menonton kartun favoritnya setiap hari, aku dan teman-teman seusiaku di sini selalu melihat darah mengalir seperti air dari tubuh-tubuh saudara kami, tetangga kami, bahkan teman seusia kami saat sedang mencari kerikil bersama. Kadang kerikil itu kami jadikan kelereng untuk bermain. Maaf kakak, bukan tidak serius mengumpulkan kerikil tapi sungguh kami tidak bisa menghindar dari fitrah. Sungguh, kami masih anak-anak. Kami bermain sambil berperang. Kepulan asap dan besarnya api adalah tontonan kami hampir setiap hari. Tapi sungguh, kami tidak pernah main-main saat harus melemparkan kerikil-kerikil itu ke wajah dan tank-tank milik Yahudi Israel La’natullah! Bagi kami yang kecil ini, mereka tak lebih dari binatang menjijikkan yang halal dibunuh! Sungguh, Kak. Kami tidak pernah lari saat harus bertemu mereka. Percayalah...
Kak, di sini jumlah sholat kami bertambah. Kami harus sholat 6 kali dalam sehari. 5 kali untuk sholat fardhu dan satunya lagi untuk sholat jenazah. Bahkan sehari kami bisa sholat jenazah berkali-kali. Apakah di negeri kakak jumlah sholatnya jadi bertambah seperti di negeri kami?
Kak... Apakah di sana juga ada suara dentuman? Bukan ledakan petasan, Kak. Maksudku suara ledakan bom dan rudal. Atau paling kecil suara dentum peluru yang memabi-buta. Di sini kami tidak butuh petasan, Kak. Kami justru ingin merakit bom sendiri untuk membantu abi melawan Zionis. Hmm... Tidak ada ya? Di sini banyak sekali, Kak. Namun suara-suara itu terdengar seperti orkestra dari syurga. Suara yang kata banyak orang menakutkan  itu, di sini menjadi suara yang indah. Seolah suara itu berbisik kepada kami, “ Syurga semakin dekat.... kemarilah wahai para perindu syahiid...” Jika beruntung, maka salah satu di antara kami akan benar-benar melihat syurga sesaat setelah tubuh kami hancur diledak rudal atau tercabik oleh jutaan peluru. Seketika aroma kasturi melangit di bumi suci kami, Palestina. Kakak mau coba? Kemarilah... temani aku mengumpulkan peluru.
Kak, tiba-tiba aku rindu sekali pada Abi. Tapi kata Ummi, Abi sedang menunggu di satu tempat paling baik, paling indah dan paling nyaman. Tempat terbaik yang belum pernah ada di dunia. Aku tidak mengerti maksud Ummi. Bagaimana bisa Ummi bilang tempat itu paling indah tapi tidak pernah ada di dunia? Apa kakak mengerti maksud Ummi? Jika mengerti, tolong beritahu aku ya, Kak. Dan jika kakak bertemu Abi, tolong katakan padanya bahwa aku rindu... suruh Abi pulang ya, Kak. Aku rindu, Abi. Sungguh...






Kamis, 06 Maret 2014

Tiga Hal yang Harus Diajarkan Orang Tua pada Anak



Anak adalah aset paling berharga yang dimiliki oleh para orang tua. Maka sebagai orang tua sudah seharusnya lah kita mendidik, menjaga dan mengasuh mereka dengan pola asuh yang baik. Sehingga ketika mereka besar, mereka akan menjadi pribadi-pribadi baik, unggul dan luar biasa.
Pada dasarnya setiap anak itu istimewa. Sebab anak dilahirkan dari proses perjuangan panjang. Anak  lahir dan berasal dari satu sel sperma istimewa yang lolos dari ribuan bahkan jutaan sperma lain yang saat itu sama-sama berjuang untuk masuk ke dalam sel telur. Karena itulah setiap anak adalah  istimewa sebab dari ribuan sel itu ia terpilih menjadi seorang manusia yang diamanahi Tuhan untuk hidup di dunia ini.
Berbahagialah para Ayah dan Ibu, sebab tidak semua pasangan suami isteri memiliki anak. Banyak pasangan yang sudah bertahun-tahun bahkan puluhan tahun menikah namun belum dianugerahi buah hati. Maka sudah sepantasnya kita bersyukur dengan mendidik dan mengajar anak yang kita miliki dengan sepenuh cinta.
Para orang tua seringkali berlebihan bahkan sampai emosi setiap kali anak melakukan kekeliruan. Orang tua lebih mudah memberi sanksi saat anak melakukan kesalahan namun lupa mengapresiasi anak saat ia melakukan kebaikan atau sesuatu yang positif.
Posisikanlah anak-anak sebagai anak-anak. Jangan sesekali memandang anak sebagai manusia  dewasa. Sebab anak bukan orang dewasa yang berukuran mini. Bila anak melakukan kesalahan, pakailah kaca mata anak-anak untuk mengukur kesalahan tersebut. Bukan memakai kacamata orang dewasa. Sebab dalam dunia anak-anak, bermain adalah belajar. Anak-anak mendapat pelajaran dari permainan yang mereka mainkan. Begitulan proses belajar anak. Mereka belajar dari pengalaman bermainnya.
Ketika anak bermain ayunan lalu terjatuh, tidak heran bila mereka akan tetap bermain. Walau pun ketika jatuh mereka akan menangis. Namun mereka akan mengulanginya kembali dengan tehnik dan cara yang berbeda dengan sebelumnya. Karena sesungguhnya dari bermain dan dari jatuh itu anak sedang belajar sesuatu. Maka orang tua yang bijak adalah bukan orang tua yang terlalu banyak melarang anak untuk bermain ini dan itu. Orang tua yang bijak adalah orang tua yang mampu mengawasi anak dan meminimalisir bahaya saat anak sedang bermain.

Dalam acara Talk Show bertema “ Bijak dalam Mendidik Anak” yang berlangsung hari ini pada pukul 10.00 wib di RA. Adzkia Jl. Datuk no. 2 Pelawi Utara Pangkalan Berandan Kab. Langkat dengan ditemani moderatornya Bapak Supriadi, S.Ag. Psikolog bernama Bapak Samsul Bahri, S.Psi. ini menyampaikan bahwa  ada TIGA hal yang harus kita lakukan sebagai orang tua. Tiga hal tersebut adalah:
1.       Ajari anak untuk selalu meminta maaf ketika ia melakukan kesalahan atau kekeliruan
Jika kita para orang tua menginginkan anak menjadi pribadi yang baik dan positif maka kita harus menjadikan diri kita sebagai pribadi yang baik dan positif terlebih dahulu. Ucapkan kata “maaf” pada anak anda jika anda melakukan sebuah kesalahan atau kekeliruan. Ini akan mengajarkan anak untuk meminta maaf bila suatu saat ia melakukan kesalahan dan kekeliruan.
2.       Ajari anak untuk selalu  mengucapkan kata ‘tolong’ saat meminta bantuan
Ucapkanlah kata “tolong” sebelum kita meminta anak untuk mengerjakan suatu perintah atau bantuan. Misalnya, “ Nak, tolong ambilkan pulpen Bunda di atas meja ya...” Ini akan mengajarkan anak untuk selalu mengucapkan kata tolong saat ia meminta bantuan pada kita orang tuanya maupun pada orang lain. Dan sekaligus mengajarkan anak untuk tidak sombong atau semena-mena memerintah orang lain.
3.       Ajari anak untuk selalu mengucapkan terima kasih
Orang tua yang selalu mengucapkan terima kasih saat anak membantunya mengambilkan sesuatu yang diperintahkan, secara tidak langsung orang tua telah mengajari anak arti terima kasih. Sehingga suatu saat anak akan kembali mengucapkan “terima kasih” pada orang lain yang telah membantu atau berbuat baik padanya.

Kamis, 23 Januari 2014

Kotak CANTIK dari Origami



Seringkali kita melihat kesulitan lebih dulu tanpa memikirkan hasil yang diperoleh ketika kita berhasil melalui prosesnya. Atau mungkin kita terlalu cepat mengatakan, “ Sulit ah, rumit....” padahal belum dicoba. Nah, demikian juga dengan kotak cantik nan mungil ini.
Bagi yang belum pernah belajar melipat maka akan sangat kesulitan untuk menyelesaikannya. Sebab butuh kesabaran dan keterampilan untuk melipat lalu menyatukannya menjadi sebuah kotak. Namun, bagi kamu-kamu yang senang dengan dunia keterampilan, pernak-pernik dan sebagainya, kesulitan ini justru membuat kamu semakin tertantang untuk segera mencobanya.
Baiklah, bagi kamu-kamu yang ingin mencoba silahkan simak langkah-langkah berikut ini.
a.       Sediakan delapan buah origami dengan dua warna yang berbeda ( misal: kuning 4 dan biru 4), karena untuk membuat satu kotak kamu butuh delapan kertas (4 untuk kotak bagian bawah dan 4 untuk kotak bagian atas). Sebenarnya kita bisa memakai satu warna saja untuk kedelapan kertas tersebut dan hasilnya akan berwarna polos. Nah, untuk membuat kotak menjadi cantik dan menarik maka warna harus dikombinasikan. Terserah ingin mengkombinasikan warna apa saja sesuai selera.
b.      Setelah itu, ambil satu lembar kertas pertama (misal:biru) dan lipatlah dengan mengikuti langkah-langkah seperti yang ada di gambar. Berikut keterangannya:
1.      Kertas dibentangkan dengan posisi warna biru di atas
2.      Lipat ke bagian dalam (putih) sehingga menjadi berbentuk segitiga sama sisi. Perhatikan sudut-sudutnya agar sama rata dan simetris agar hasilnya rapi dan baik.
3.      Lipat kembali ke arah kiri sehingga membentuk segitiga siku-siku. Pastikan hasil lipatannya kelihatan saat dibuka karena akan membantu lipatan selanjutnya.
4.      Setelah itu buka lipatannya sehingga kertas terbentang kembali seperti sebelum dilipat hanya saja pada poin ini, bagian kertas yang berwarna putih berada di atas dan ada bekas lipatannya. Posisikan kertas seperti gambar no 4 lalu lipat kertas dari sudut bawah ke titik tengah sehingga bagian berwarna biru membentuk segitiga kecil.
5.      Buka lipatan segitiga yang kecil tadi lalu tarik sudut atas kertas ke batas lipatan segitiga yang kecil itu (lihat gambar)
6.      Kemudian lipat kertas ke arah belakang dengan simetris lalu posisikan seperti gambar no.6
7.      Lipat dua bagian kertas yang berwarna putih ke atas (yang dilipat hanya yang bagian putih). Kalau dilihat, bagian kertas yang berwarna biru membentuk segitiga siku-siku dengan sudut siki-siku di atas.
8.      Nah lipat kertas dengan memposisikan sudut kiri kertas yang berwarna biru (sudut ujung kiri atas) ke sudut siku-siku tekan lipatannya ke bawah. Hasilnya akan seperti gabar no. 8
9.      Lipatan terakhir, tarik bagian bawah kertas ke atas sehingga membentuk sudut siku-siku juga dan hasil akhirnya akan membentuk persegi panjang yang tegak.
10.  Selesai proses melipat. Sekarang buka lipatan yang membentuk sudut siku-siku atas dan bawah. Posisikan seperti gambar.
Lakukan hal yang sama pada kertas-kertas berikutnya sampai selesai melipat kertas yang kedelapan.
c.       Setelah selesai melipat semua kertas yang dibutuhkan, maka tahap selanjutnya adalah menyatukan hasil lipatan-lipatan itu. Cara menyatukannya adalah: masukkan bagian yang runcing (bersudut lancip) pada kertas berwana biru ke dalam kertas yang berwarna kuning pada sisi yang membentuk persegi panjang dari arah samping. Lakukan cara yang sama untuk kertas berikutnya sampai membentuk kotak. Warna harus diselang seling (biru-kuning-biru-kuning). Makan akan terbentuk kotak pertama dan untuk membuat kotak ke dua langkahnya sama.
d.      Setelah dua kotak terbentuk (kotak atas dan bawah), lalu satukanlah kedua kotak tersebut. Masukkan kotak pertama kedalam kotak kedua. Dan............selesai...... hasilnya bisa dilihat pada gambar no.11.
hehee.... maaf contoh hasil yang ada pada no.11 warnanya berbeda dengan contoh. Nah, kamu bisa juga bisa bikin kombinasi dengan warna lain.
Kenapa harus origami yang dua warna(ada putihnya)? Sebenarnya tidak harus. Akan tetapi, jika kita memakai origami yang warnanya timbal balik (tidak ada putihnya), maka hasilnya akan biasa saja, tidak akan terlihat motifnya (polos saja).
Demikianlah langkah-langkah membuat kotak CANTIK dari Origami. Semoga bermanfaat dan dapat membantu kamu-kamu yang senang sekali dengan keterampilan. Salam dari saya, Vivi Suryani. Selamat mencoba...



Kumpulan Puisi di Mimbar Umum


Kau Tak Sempat Ku Kiamatkan (1)  

sebenarnya ingin kukiamatkan saja namamu
yang tersemat erat di dalam anyaman masa lalu
sebab kisah yang terajut antara kau dan aku telah tamat
di suatu senja yang pilu kala itu
saat burung-burung kembali pulang
dengan formasi yang membentuk huruf V ( vi )
kau dan aku harus beradu jarak dan saling berjalan mundur
dengan langkah rendah yang meminta waktu terulur-ulur
aku mengatur nafas yang mulai lebur
bersama bayangmu yang semakin kabur dari retinaku

sebenarnya ingin kukiamatkan saja namamu
dari sejarah hidupku yang terkotak-kotak karena rindu
saat kondisi dan hati telah lama memberi indikasi
bahwa kau akan menjadi kisah abu-abu
dalam album yang kusangka ungu
namun gemericik hujan di awal pagi yang menghapus senyum mentari
menyadarkan aku
kubuka tirai-tirai jendela yang menghalangi angin dan cahaya pagi
di kaca jendela yang berembun kutemukan sehelai daun hijau yang retak
sedang pohon tak satupun tumbuh di sekitar rumahku

kau tak sempat kukiamatkan
sebab hujan dan angin telah menjadikanmu misteri

2012
 ____________________________________ 

Aku, Bingkai Puisimu  (2)

masihkah rindumu memiliki pita suara?
sebab hati ini tak pernah lagi terpanggil oleh bisikan rindu yang pernah membara
Kau tau, Lii?
aku melumpuhkan hatiku agar ia tak lagi berjalan ke manapun
agar engkau tahu bahwa rinduku hanya satu, kau
aku menyatu dalam rindumu
kau dalam sederetan melodi di tangga nada berirama cinta
memainkan lagu yang begitu merdu memenuhi ruang-ruang di qolbu
aku, seperti katamu dulu
“ akan tetap menjadi bingkai bagi puisimu”

2012
____________________________ 

Kau, Aku, dan Hijaumu (3)

Puisiku retak oleh hujan-hujan rindu yang bergelantungan di pohon kisah silam
bersama kicauan burung yang beradu tembang dengan semilir angin pagi tadi yang membuat gemulai seluruh isi dalam hati

Puisiku retak oleh butiran embun yang selalu turun kala sepi menjadi teman terdekat bagi hati
menjadi bulan-bulanan bagi sepi yang melarikan diri untuk mencari sebutir permata berbalut syurga

Kau, aku dan hijaumu
dalam bingkai masa lalu

2012
 _____________________________ 


Kau Siapa? (4)

aku adalah angin yang dibawa senja untuk membelai malammu
namun pagi segera hadir memisahkan kita, sedang mentari belum sadarkan diri dari tidurnya.
kau bukan sesuatu yang harus kutangisi bila masa memaksaku melepas rasa yang tak berpunya ini.
kau...
kau siapa?
pun aku tak tau
yang aku tau,
kau adalah sesuatu yang belum kumiliki
2012

 ____________________________

Hambar (5)

Ku seruput secangkir semangat yang baru diseduh pagi dari didihan telaga jiwa yang dijerang surya
kuaduk mengikuti putaran waktu dengan jari telunjuk yang selalu tunduk saat dua kaki terpaut di atas sajadah akut
rasanya masih hambar, bukan karena gula yang berubah tawar tapi rasa di lidah telah berpencar menjadi bisa yang sangar

2012
_____________________________ 

Kau (6)

tak ada yang lebih menyejukkan melebihi retak hijaumu
bahkan caramu melukai terlalu indah untuk disebut luka
dan perih yang kauberi terlalu manis untuk dianggap bisa
sebab kau adalah alasan mengapa aku menjadi dewasa
meski kadang mengenang indahmu menjadi siksa bagi sukma
kau tetap belahan jiwa yang terbelah masa

kau adalah asa yang sempat menjadi ambisi bagi hati
namun logikaku masih bisa mencerna hitam di atas jingga
hingga cinta tak menjadikanku tunanetra

kau adalah bendera yang telah kuperjuangkan
untuk sampai di puncak gunung keikhlasan
dan aku tak akan mengambil kembali tanda kemenangan
yang telah kujadikan mahar melamar ridho-Nya

2012

-------------------------------- 
Keenam puisi ini terbit di sebuah harian bernama, Mimbar Umum pada Sabtu, 11 Januari 2014.
Puisi ini juga dapat dilihat pada blog harian tersebut :
http://www.mimbarbudaya-harianmimbarumum.blogspot.com/

Kamis, 31 Oktober 2013

Halaqoh CIKAHA Peduli


Kita tak pernah tahu arti sebuah senyuman jika kita tidak pernah membuka mata untuk melihat betapa banyak orang yang hari ini sulit sekali tersenyum karna peliknya hidup yang mereka jalani. Kita tidak pernah tahu arti sebuah senyuman jika kita tidak pernah menggunakan kedua tangan ini untuk berbagi, mengurangi sedikit beban hidup tetangga sekeliling kita. Bagi orang yang berkecukupan, nasi goreng spesial yang dibeli di restorant mahal itu biasa saja saat mengisi lambung. Tapi bagi orang yang lapar, sebutir kurma justru lebih berharga. Inilah yang baru saya sadari kemarin, saat saya, murobbi dan teman-teman CIKAHA (nama Halaqoh kami) berkeliling memberikan sedikit rezeki yang kami punya. Kami terkenang akan hadits Rasulullah di bawah ini.
عن جابر قال : قال ر
سول الله صلى الله عليه وسلم : « المؤمن يألف ويؤلف ، ولا خير فيمن لا يألف ، ولا يؤلف، وخير الناس أنفعهم للناس »
Diriwayatkan dari Jabir berkata,”Rasulullah saw bersabda,’Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni)
Berbekal hadits di atas lah akhirnya kami terinspirasi untuk membuat program kerja halaqoh yang bernama “ Cikaha Peduli “. Program ini adalah bentuk kecil dari betapa besarnya keinginan kami untuk berbagi di tengah keterbatasan materi. Semua harus ada yang memulai, maka dari itu halaqoh kami memutuskan untuk menjadi halaqoh awwalun di kota kami yang mempelopori program ini. Cikaha Peduli adalah program kerja halaqoh yang kami lakukan setiap sebulan sekali. Acaranya seperti Liqo’ biasa, hanya saja setelah Liqo’ selesai kami semua bergerak ke tetangga sekitar tempat kami halaqoh untuk membagi-bagikan hasil patungan uang yang kami kumpulkan. Dari patungan itu alhamdulillah terkumpul 40 bungkus kantong plastik yang masing-masing berisi ¼ kg gula pasir, ¼ kg minyak goreng dan satu bungkus serbuk teh.  Dan ini adalah agenda perdana dari “ Cikaha Peduli ”, kemarin tertanggal 30 oktober 2013 di sebuah kota bernama Pangkalan Berandan, Kabupaten Langkat - Sumatera Utara. Subhanallah sekali senyum ibu-ibu yang menerima bungkusan tak seberapa itu. Bahkan kami juga didoakan kebaikan. Coba lihat foto-foto di bawah ini, saat beberapa orang nenek-nenek menerima bungkusan yang kami berikan.




“ Hidup ini semakin indah jika semua penghuninya tersenyum padamu karena akhlakmu yang jelita lalu mereka mendoakan banyak kebaikan kepadamu sehingga hidupmu menjadi lebih berkah”.

Siapa yang tidak senang jika melihat seseorang tersenyum pada kita saat  berpapasan jalan atau saat kita melintas di depan rumahnya? Ternyata tidak sulit membuat orang lain tersenyum hanya saja mungkin kita seringkali alpa memikirkannya. Aktivitas yang terlalu padat membuat kita hampir tidak sempat menyapa tetangga kanan dan kiri. Sebab pagi-pagi sekali kita harus berangkat keluar rumah saat tetangga masih sibuk di dapur atau mengurus keperluan rumah tangga mereka. Lalu kita kembali ke rumah saat senja hampir tiba dan tetangga sedang asyik menyiapkan makan malam keluarga.


Perjalanan panjang dimulai dari satu langkah kaki yang mau bergerak memulai perjalanan. Maka semoga langkah-langkah kebaikan ini tetap istiqomah untuk terus berusaha menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesamanya terkhusus tetangga, sebagai bentuk karakter khas yang terbina dengan adanya tarbiyah ini dan semoga program kerja ini menjadi sumber inspirasi bagi halaqoh-halaqoh lain di seluruh tanah air. Salam dari halaqoh CIKAHA, Cinta Kerja dan Harmoni teruntuk seluruh saudara kami di mana pun berada. ^_^

Dalam konsep pemberian, yang terpenting adalah bukan seberapa banyak yang bisa kita bagi melainkan  seberapa bisa kita berbagi di tengah keterbatasan yang kita miliki.


Jumat, 30 Agustus 2013

Pagi Kembali Tiba


Pagi kembali tiba dengan senyum yang tak lagi sama seperti kemarin. Menggamit sinar mentari yang masih terhalang kabut sisa rindu awan pada rembulan semalam. Angin masih terasa ekstrim, bagai jarum es yang menusuk poriporiku hingga membuat dingin setiap ujung jemari. Sedang nafasku masih berhembus lemas di antara bulirbulir embun yang turun membelai dedaun.

Kuseka rasa sakit yang masih menyisakan peluhnya di rongga dada. Kutajamkan telinga untuk merekam semua suara di sekeliling, memastikan bahwa telingaku masih bisa diajak bekerjasama dan merasakan denyut nadi yang sama seperti pagipagi sebelumnya. Kutanya paruparu apakah ia siap menjalani pagi yang baru tanpa pertengkaran sengit antara dirinya dan oksigen di jalur udara yang ada di dalam tubuhku.

 “ Aku sudah lebih baik.” Katanya.



======= Vivi Suryani, 30-08-2013======