Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Januari 2014

Kumpulan Puisi di Mimbar Umum


Kau Tak Sempat Ku Kiamatkan (1)  

sebenarnya ingin kukiamatkan saja namamu
yang tersemat erat di dalam anyaman masa lalu
sebab kisah yang terajut antara kau dan aku telah tamat
di suatu senja yang pilu kala itu
saat burung-burung kembali pulang
dengan formasi yang membentuk huruf V ( vi )
kau dan aku harus beradu jarak dan saling berjalan mundur
dengan langkah rendah yang meminta waktu terulur-ulur
aku mengatur nafas yang mulai lebur
bersama bayangmu yang semakin kabur dari retinaku

sebenarnya ingin kukiamatkan saja namamu
dari sejarah hidupku yang terkotak-kotak karena rindu
saat kondisi dan hati telah lama memberi indikasi
bahwa kau akan menjadi kisah abu-abu
dalam album yang kusangka ungu
namun gemericik hujan di awal pagi yang menghapus senyum mentari
menyadarkan aku
kubuka tirai-tirai jendela yang menghalangi angin dan cahaya pagi
di kaca jendela yang berembun kutemukan sehelai daun hijau yang retak
sedang pohon tak satupun tumbuh di sekitar rumahku

kau tak sempat kukiamatkan
sebab hujan dan angin telah menjadikanmu misteri

2012
 ____________________________________ 

Aku, Bingkai Puisimu  (2)

masihkah rindumu memiliki pita suara?
sebab hati ini tak pernah lagi terpanggil oleh bisikan rindu yang pernah membara
Kau tau, Lii?
aku melumpuhkan hatiku agar ia tak lagi berjalan ke manapun
agar engkau tahu bahwa rinduku hanya satu, kau
aku menyatu dalam rindumu
kau dalam sederetan melodi di tangga nada berirama cinta
memainkan lagu yang begitu merdu memenuhi ruang-ruang di qolbu
aku, seperti katamu dulu
“ akan tetap menjadi bingkai bagi puisimu”

2012
____________________________ 

Kau, Aku, dan Hijaumu (3)

Puisiku retak oleh hujan-hujan rindu yang bergelantungan di pohon kisah silam
bersama kicauan burung yang beradu tembang dengan semilir angin pagi tadi yang membuat gemulai seluruh isi dalam hati

Puisiku retak oleh butiran embun yang selalu turun kala sepi menjadi teman terdekat bagi hati
menjadi bulan-bulanan bagi sepi yang melarikan diri untuk mencari sebutir permata berbalut syurga

Kau, aku dan hijaumu
dalam bingkai masa lalu

2012
 _____________________________ 


Kau Siapa? (4)

aku adalah angin yang dibawa senja untuk membelai malammu
namun pagi segera hadir memisahkan kita, sedang mentari belum sadarkan diri dari tidurnya.
kau bukan sesuatu yang harus kutangisi bila masa memaksaku melepas rasa yang tak berpunya ini.
kau...
kau siapa?
pun aku tak tau
yang aku tau,
kau adalah sesuatu yang belum kumiliki
2012

 ____________________________

Hambar (5)

Ku seruput secangkir semangat yang baru diseduh pagi dari didihan telaga jiwa yang dijerang surya
kuaduk mengikuti putaran waktu dengan jari telunjuk yang selalu tunduk saat dua kaki terpaut di atas sajadah akut
rasanya masih hambar, bukan karena gula yang berubah tawar tapi rasa di lidah telah berpencar menjadi bisa yang sangar

2012
_____________________________ 

Kau (6)

tak ada yang lebih menyejukkan melebihi retak hijaumu
bahkan caramu melukai terlalu indah untuk disebut luka
dan perih yang kauberi terlalu manis untuk dianggap bisa
sebab kau adalah alasan mengapa aku menjadi dewasa
meski kadang mengenang indahmu menjadi siksa bagi sukma
kau tetap belahan jiwa yang terbelah masa

kau adalah asa yang sempat menjadi ambisi bagi hati
namun logikaku masih bisa mencerna hitam di atas jingga
hingga cinta tak menjadikanku tunanetra

kau adalah bendera yang telah kuperjuangkan
untuk sampai di puncak gunung keikhlasan
dan aku tak akan mengambil kembali tanda kemenangan
yang telah kujadikan mahar melamar ridho-Nya

2012

-------------------------------- 
Keenam puisi ini terbit di sebuah harian bernama, Mimbar Umum pada Sabtu, 11 Januari 2014.
Puisi ini juga dapat dilihat pada blog harian tersebut :
http://www.mimbarbudaya-harianmimbarumum.blogspot.com/

Jumat, 30 Agustus 2013

Pagi Kembali Tiba


Pagi kembali tiba dengan senyum yang tak lagi sama seperti kemarin. Menggamit sinar mentari yang masih terhalang kabut sisa rindu awan pada rembulan semalam. Angin masih terasa ekstrim, bagai jarum es yang menusuk poriporiku hingga membuat dingin setiap ujung jemari. Sedang nafasku masih berhembus lemas di antara bulirbulir embun yang turun membelai dedaun.

Kuseka rasa sakit yang masih menyisakan peluhnya di rongga dada. Kutajamkan telinga untuk merekam semua suara di sekeliling, memastikan bahwa telingaku masih bisa diajak bekerjasama dan merasakan denyut nadi yang sama seperti pagipagi sebelumnya. Kutanya paruparu apakah ia siap menjalani pagi yang baru tanpa pertengkaran sengit antara dirinya dan oksigen di jalur udara yang ada di dalam tubuhku.

 “ Aku sudah lebih baik.” Katanya.



======= Vivi Suryani, 30-08-2013======

Selasa, 25 Juni 2013

Kutitipkan Puisiku


Kusembunyikan puisiku di antara rintik rindu
yang selalu menghujani kalbu
kala subuh dikayuh mentari
yang ingin berlabuh di dermaga fajar
tempat pagi dan malam selalu bertengkar
sebelum akhirnya berpisah
membiarkan waktu berputar

Kusembunyikan puisiku di balik dinding bisu
tempat kita saling menyandar bahu
bercerita dan menggambarkan waktu
yang menjadikan langit selalu biru
lalu awan berubah kupu-kupu
terbang menyingkap tirai abu-abu
hingga pelangi menepi, tersipu malu

Kini, kutitipkan puisiku
di antara dua bibir ibu
yang tak alpa mendoakanku

Duhai Hari yang Berpelangi

Tuhanku satu
temanku beribu
Agamaku satu
sesamaku berseru
Ahad!

Dua tanganku
Tak akan berpangku
Mulutku satu
Haruslah bermutu
Demi ibu!

Sepasang mata merekam dunia
Sepasang kaki akan beraksi
Sebening embun seharum bunga
Mimpi kuraih cita kupilih
Demi ayah!

Jika senja menjelma malam
Ada bintang yang akan datang
Bila gelap telah usai
Tanda mentari ‘kan menjelang
Duhai hari yang berpelangi
Do’akan aku jadi pemenang!



Cermin Berembun, 24 Juli 2013

Rabu, 19 Juni 2013

Seindah Indah Muara



Sendiri,
Secangkir harapan yang sudah tak hangat lagi
Sepotong mimpi hampir basi
Detak waktu yang tak pasti

Sendiri,
Sinar di binar mata memudar
Sungging senyum mentari hilang
Derap langkah kaki tunggang langgang

Sendiri,
Suara jangkrik menangis tersedu, mengadu
Senja terakhir akan tiba, katanya
Do'a ibu makin syahdu memohon nyawa pada-Mu, aku

Sendiri,
Sekilas masa lalu menjenguk sepi, di sini
Sedang aku tak ingin diganggu sesiapa
Demi masa yang hilang, aku bersumpah bisu

Sejatinya...
Setiap air mengalir akan bertemu muara
Sepasang kaki yang melangkah pasti menemukan pijakan
Sepiku juga begitu, butuh muara dan pijakan
Dan Engkau seindah-indah muara
Sekuat-kuat pijakan


| Vivi Suryani: P. Berandan, 19 Juni 2013 |

Selasa, 18 Juni 2013

Aku, kamu, kita


Kakekku, kakekmu kakek kita
dulu lahir di tanah merah
sebab menyatu tanah dan darah
seperti lekatnya daging dan tulang
sejak lahir menjadi pejuang
tak kenal bermain kecuali perang

Kakekku, kakekmu, kakek kita
dulu tidur dengan mata terbuka
terjaga di antara dentum peluru dan tangis ibu
memeluk masa depan di bawah cerutu
indah purnama pun tak terbaca
warna senja tak lagi jelita
sebab lagit selalu sama; mendung


Kakekku, kakekmu, kakek kita
semasa muda terbiasa tanpa alas kali
menapaki aspal yang dimasak mentari
berpeluh tanpa keluh, mencari sesuap nasi
bukan untuk perut sendiri
tapi terkenang wajah lapar anak isteri
di tangan penjajah tak berbudi

Kakekku, kakekmu, kakek kita
rela mati demi negeri tercinta; Indonesia
tak hirau maut di depan mata
demi selembar kain bernama bendera
langit dan bumi menjadi saksi sejarah
bahwa tangis, darah dan keringat pernah tumpah


Aku, kamu, kita
harusnya menjadi bunga bangsa yang selalu mekar
mengikat gelora hati anak negeri
menjaga pertiwi sampai mati
sebab kakekku, kakekmu, kakek kita
adalah bendera yang terus berkibar
di tiang harapan yang tak pernah memudar



.
| Vivi Suryani, 04 Juni 2013 |

My Kompasiana :
http://fiksi.kompasiana.com/puisi/2013/06/18/aku-kamu-kita-569781.html

Minggu, 09 Juni 2013

Menunggu Hujan Berhenti


Hujan masih menggelitik seluruh tubuh bumi
Dedaunan basah masih saling bercengkrama dengan rinainya
Sedang para amfibi tak sudah-sudah bertembang suara
Saling menunjukkan kelebihan vokal masing-masing
Tidak peduli siapa yang akan lolos audisi
Bahkan mungkin tidak akan masuk dapur redaksi
Ahh...begitulah cinta
Jika menyanyi sudah menjadi sesuatu yang dicintai
maka tak peduli hari sudah pagi
mereka akan terus bernyanyi sampai hujan berhenti


Di kamar, menikmati atap yang bocor.
06 Juni 2013
 —

Selasa, 28 Mei 2013

Musim dalam Kehidupan


Segores harapan sempat melukai penantian

Dalam dekapan sepi yang selalu mengikat hati
Ku coba bertahan
Walau sempat terjatuh
Aku kembali bangkit
Menengadah ke langit
Lalu bertanya pada Tuhan,
" Apa ini ? "
Tuhan diam saja,
mungkin sedang tersenyum melihatku


Kejadian demi kejadian bagaikan musim dalam kehidupan
Datang silih berganti menghampiri diri
Ketika musim hujan datang,
pertanda akan hadir pelangi
Lalu musim kemarau pun bersemi
Berjuta cerita berbuah hikmah
Kini matang dalam pahitnya kehidupan
Mencicipi hal yang paling pahit
agar terasa begitu manisnya kemanisan itu...


Di sini aku berdiri
Di depan tabir-Mu
Tegak tak bergerak
Kaku dalam rindu yang bisu
Ingin ku singkap tabir itu
Tapi aku tak mampu...


Catatan Lama, 08 Oktober 2011

Minggu, 12 Mei 2013

Puisi Ini Untuk-Mu






Tuhan...
Puisi ini untuk-Mu

Aku ingin bertanya pada-Mu
cara agar aku bisa berbicara pada langit
aku ingin memintanya mengganti warna pelangi
agar tak lagi mejikuhibingu
sebab di sederetan warna itu
tak ada warna kesukaan ibuku
aku ingin meminta langit menggantinya
menjadi kupukupuhijrah
kuning putih kuning putih hijau merah

sebab kata ibu, kuning putih telah melahirkan
ribuan bahkan jutaan unggas
kuning putih telah menjadi siang dan malam bagi ibu,
kuningnya rembulan putihnya langit siang yang bersih
sedang hijau adalah kesejukan dalam pandangan
dan merah adalah lambang pengorbanan yang berani mati

Tuhan...
Sampaikan puisi kecilku ini pada langit
agar ia berkenan mengganti warnanya,
untuk ibuku...


-Cermin Berembun, 10 Mei 2013- 

Aku Jatuh Cinta





Aku jatuh cinta
pada tetes embun 
yang berayun di helai-helai daun
melambai dihembus semilir pagi

Aku jatuh cinta
pada hijau muda
yang terbentang luas di padang rumput
lembut menari bersama kicau alam di muara hati

Aku jatuh cinta pada detak jantung ke sekian
yang berdenting seirama jam dinding tak berjarum
tapi berputar bagai roda bumi mengitari matahari

Aku jatuh cinta
pada kilau warnamu yang teguh bersinar
memancar bagai fajar yang tak gentar diserbu gemuruh
sedang senyummu bagai api yang membakar belukar


Puisi pagi, Cermin Berembun- 10 Mei 2013

Minggu, 31 Maret 2013

:: A Y A H ::


Ada segurat warna di wajahmu yang melangitkan senyumku 
kala dua bola mata ini bersama mengeja rangkaian aksara di dua matamu
Yah....aku sayang Ayah karena Allah
Andai bisa kulukis setiap sepimu menjadi puisi 
seindah hembusan angin dan desir ombak di tepian pesisir 
yang menghiasi telinga dengan nyanyian alam, akan aku lakukan
Hingga aku terlelap dalam pangkuan bumi bersama buaian malam 
yang mendendangkan suara manja lalu menemukan 
wajah Ayah terbit bagai fajar di jendela pagiku


-Vivi Suryani-, 13 Maret 2013

Rabu, 06 Maret 2013

Hijaumu




Dulu kau berlayar di padang air membentang biru, 
sendiri
saat warna langit menyatu bersama birunya laut
menyelimutimu dengan senandung rindu yang gebu
kau berlabuh di paluh hati

Namun waktu telah jauh membawamu pergi
kini hijaumu tak berkilau lagi di jernih embun
juga tak terbaca di bening samudera
jejak yang kau tapak di sepanjang laut
tak akan membekas meninggalkan tanda
bahwa kau pernah berjalan di luas samudera
dan bermalam di tepi pesisir beberapa hari
bersamaku
 

 _________________
P. Berandan-03.03.13

Nafas Alam di Saku Pagi

Kau kah itu yang berdebam di kasur waktu
tidur di reruntuhan rindu yang melangit
bermimpi dalam cita yang meluas
memelukku erat dalam selimut obsesi yang kuat

Kutabung nafas alam di saku pagi
menyimpannya rapat-rapat
hingga tidak ada sekat antara nadi dan darah
kau mengalir bersama mega di palung jiwa
memasung realita di kebebasan yang memenjara
menyentuhmu dengan pejaman mata






___________________
P. Berandan, 04.03.2013

Senin, 04 Februari 2013

Cinta Tak Lagi Putik


kelopak-kelopak rindu kian dalam
menampung rinai doa yang kau taburkan di kebun sepertiga malam
senyummu memahkotai cinta yang tak lagi putik

angin syurga berhembus menebar sari bernama shabara
membuahi rasa di kandungan kalbu
lalu lahir menjadi episode baru






______________

 |Vivi Suryani, terbit di Waspada Edisi Minggu, 03 Feb'13|

Semilir Pagi



aku seperti ranting pohon maple yang mengering karena kemarau rindu
menanti embun di ujung rinai menyapa dahan-dahan tak berdaun (lagi)
dan kau hadir bersama semilir pagi
membelaiku bagai musim semi

_______________
 


 |Vivi Suryani, terbit di Waspada Edisi Minggu, 03 Februari 2013|

Minggu, 02 Desember 2012

K A U

Tak ada yang lebih menyejukkan melebihi retak hijaumu
bahkan caramu melukai terlalu indah untuk disebut luka
dan perih yang kau beri terlalu manis untuk dianggap bisa
sebab kau adalah alasan mengapa aku menjadi dewasa
meski kadang mengenang indahmu menjadi siksa bagi sukma
kau tetap belahan jiwa yang terbelah masa

Kau adalah asa yang sempat menjadi ambisi bagi hati
namun logikaku masih bisa mence
rna hitam di atas jingga
hingga cinta tak menjadikanku tunanetra

Kau adalah bendera yang telah kuperjuangkan
untuk sampai di puncak (gunung) keikhlasan
dan aku tak akan mengambil kembali tanda kemenangan
yang telah kujadikan mahar melamar ridho Tuhan

.
.

Vivi Suryani
02 Desember 2012

Jumat, 30 November 2012

Kau adalah Fiksi dalam Kamus Imajinasi




Dalam dekapan waktu aku bertahan meski dahan itu bisa saja roboh
atau rantingnya patah merubah arah lambai daun
pupus warna mentari membalut jingga di ujung mata
meski tampak pasi tapi ia masih sanggup berdiri menahan asa yang akan melarikan diri

tidak ada yang berhak atas tinta ini kecuali pena dan jemariku
aku akan menjadikanmu fiksi dalam kamus imajinasi
hanya khayal yang pasang surut membuatku takut dan berlutut pada rautmu
kau hanya sketsa takdir yang belum sempurna menjadi tokoh cerita dalam duniaku

aku,
akan bernafas seperti kapas yang ditiup angin
mengikuti arus-Nya yang indah seindah skenario-Nya...


# CB-10.11.12

Sabtu, 22 September 2012

Noktah Rindu



Senoktah rindu pekat dulu melekat
Pada sebilik hati yang sepi tak berpenghuni
Ku titipkan noktah itu pada lautan
Agar rindu ini meluas ke seluruh samudera
Hadir ke permukaan dunia menebar suka
Lalu menguap ke angkasa raya
Berkuntum dalam  mendung rindu yang merundung
Ribuan musim bergulir dan berlalu
Akhirnya tumpah ruah dari langit kasih-Nya

Noktah-noktah rindu itu menghujani penduduk kalbu
Memekarkan sekuntum bunga di taman hati
Pelangi kini tersenyum, merekah
Mentari pun melebarkan sayap-sayapnya
Menebar hangat selembut sutera
Mencumbu mutiara berbalut jingga


Puisi ini pesanan seorang teman :D 



 

By Vivi Suryani,
P.Berandan, 09 Maret 2012

Senin, 17 September 2012

Pelataran Cinta

Terombang ambing di lautan dosa
Kehilangan arah tempat berserah
Tersesat di pulau maksiat
Terdampar di tanah yang hambar



Jauh...sangat jauh.

Tak ada pegangan yg dapat diandalkan
Semua membisu mencengkram kalbu

Tak adakah sebait nada yg menyentuh jiwa?
Tak adakah sebaris lagu penentram kalbu?
Atau sebait puisi di tempat ini, yang mengisi hati?

Perih tak terperi
Air mata tiada henti menghiasi hari-hariku di sini

Pengandaian menjadi angan-angan yang memanjakan dalam buaian setan
Semakin jauh berjalan, semakin terpuruk di kegelapan
Tertatih di tengah hutan kezhaliman,
hanya pepohonan hitam yg hidup dlm kekokohan

Tak ada yg dpt dijadikan sahabat atau kerabat
Tak ada yg dpt dipercaya utk bertanya
Lalu, mau kemana?
Tempat ini melumpuhkan semua potensi

Menangis, hanya itu yg bisa
Menyesal ?? Pasti.

Tapi mengapa menaiki perahu yg tak tentu pelabuhan tuju?

Kini semua tlah terjadi
Aku tersesat di sini
Sendiri
Sepi
Hampa menggerogoti jiwa

Ku coba mengumpulkan kembali puing-puing mutiara yg masih tersisa
Berharap kelak ia pasti berharga

Kehabisan energi
Sejenak napasku terhenti
Sedetik jantungku tak berkutik
Darahpun seolah berhenti mengalir

Tidaaak !
Aku harus bangkit
Berjuang menemukan jalan terang
Keluar dari kematian iman
Meninggalkan kampung kejahilan
Beranjak jauh dari negeri kelalaian

Aku masih punya Tuhan tempat meminta kekuatan
walau tak tahu apa aku masih pantas meminta
Aku punya saudara seiman
yang mungkin menyisihkan sepotong doa tuk kebaikan
Aku tak akan mati di sini
Di pulau maksiat ini

Kan ku arungi samudera jiwa
Mencari tambatan taqwa yg sebenarnya
Kan ku kayuh perahu baru
di belantara lautan cobaan
Meski harus tersisih dlm keterasingan
Aku tetap berjuang

Duhai Allah...
Izinkan aku berlabuh di pelataran cinta-Mu
Karna aku tak ingin lepas dari pelukan-Mu

Sebelum ajal menjemputku
Izinkan daku menjemput hidayah-Mu
Harapku slalu,
di setiap tangis dalam doaku.


Vivi Suryani, 18 Maret 2010

H A T I


Hati itu seperti BUKU
yang harus ditata rapi pada raknya
yang harus sering dibaca untuk memahami isinya
dan harus dilindungi untuk menjaga keutuhannya.
Hati juga seperti BUNGA
yang harus selalu disirami agar tetap bersemi
yang harus diberi pupuk agar indah mekar
yang harus selalu dirawat agar tetap sehat
dan bisa juga layu ketika dilanda rindu.
Atau seperti rangkaian DAUN di pohon kehidupan.
Semakin hijau semakin menyejukkan
Semakin lebat semakin meneduhkan
Dan semakin kering akan semakin berguguran.
Ketika daun itu jatuh dari dahannya
ia harus dipungut agar berharga
setidaknya dikumpulkan menjadi pupuk yang berdaya guna.
Karena hati adalah sesuatu yang harus dikelola
agar semakin indah dan bermakna di mataNya
Duhai Allah, Tuhanku yang Maha Hidup
Hidupkan hatiku dan hati kami
seperti Engkau menghidupkan kekasihMu...




Vivi Suryani,
16 November 2011
Di sudut rindu mendambaMu..